Oleh: sunartosmkn1pacitan | Oktober 15, 2009

Obyek wisata pacitan

selain terkenal sebagai kota 1001 goa, ternyata pacitan masih menyimpan banyak Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) dan evants yang patut untuk di lestarikan dan dikunjungi, diantaranya seperti yang ditulis oleh siswa-siswi kelas XI jurusan Usaha Jasa Pariwisata (UJP) SMK Negeri 1 Pacitan  berikut ini.

ODTW DI PACITAN

GOA GONG

GOA TABUHAN

By: Yuni Trisnawati, Evi Rusdiana

Pacitan terkenal dengan sebutannya sebagai kota 1001 goa, salah satu diantaranya adalah Goa Tabuhan. Goa Tabuhan terletak di dasa Wareng kecamatan Punung kabupaten Pacitan atau 40 km sebelah barat dari pusat kota Pacitan. Waktu tempuh untuk sampai ke Goa Tabuhan, jika dengan sepeda motor + 90 menit dan 2 jam dengan mobil.

Dinamakan Goa Tabuhan, karena di bagian dalam Goa Tabuhan terdapat banyak stalagmit dan stalagtit yang konon katanya jika di pukul akan mengeluarkan suara seperti sebuah iringan musik atau orang jawa menyebutnya seperti gamelan. Hal inilah yang kemudian menarik wisatawan untuk datang ke Goa Tabuhan. Selain itu, pada hari-hari tertentu ada pertunjukan kesenian tradisional seperti pertunjukan wayang beber dan kesenian tradisional lainnya yang menabuh atau memainkan seperangkat alat musik. Maka dari itulah warga sekitar menyebutnya sebagai Goa Tabuhan.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Goa Tabuhan bisa datang kapan saja karena Goa Tabuhan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai dengan 17.00 wib. Harga tiket masuk 5.000,- untuk orang dewasa dan 2.500,- untuk anak-anak. Untuk wisatawan yang datang berkelompok atau rombongan akan mendapatkan potongan harga masuk.

Di kawasan Goa Tabuhan terdapat tempat parkir yang luas, toilet, mushola, rumah makan dan lainnya.

Monumen Jendral Sudirman

By: Rabindra Eka Restu, Diki Afdani, Muhamad Khoiril

A. Tentang Monumen Jendral Sudirman

Monumen Jendral Sudirman terletak di dusun Sobo desa Pakis Baru kecamatan Nawangan kabupaten Pacitan + 45 km sebelah utara dari pusat kota pacitan. Di kawasan monumen ini terdapat sebuah rumah yang pada tanggal 1 April 1949 – 1 Juli 1949 dijadikan sebagai  markas besar Penglima Jendral Sudirman dan di rumah ini Jendral Sudirman dirawat. Sekarang rumah tempat istirahat Jendral Sudirman diberi nama Rumah APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

Sekarang di dalam rumah APRI masih terdapat benda-benda peninggalan Jendral Sudirman, seperti: beberapa kamar tidur, jubah perang, keris, seperangkat tempat duduk, ranjang tidur, ranjang untuk berdiskusi, dan lainnya.

Di kawasan monumen juga terdapat puluhan relief yang menceritakan kehidupan panglima Jendral Sudirman semasa kecil sampai wafat. Oleh karena itu, jika wisatawan berkunjung ke sana maka wisatawan akan mengetahui sejarah Jendral Sudirman.

B. Akses Menuju Ke Monumen Jendral Sudirman

Sekarang untuk sampai ke monumen Jendral Sudirman atau ke rumah APRI tidak sesulit  beberapa tahun yang lalu, karena jalan menuju kesana sudah baik dan layak untuk dilalui sehingga jenis kendaraan umum apapun bisa sampai kesana.

C. Kelebihan

Selain sebagai tempat bersejarah, Monumen Jendral Sudirman juga dijadikan sebagai tempat wisata. Hal ini dikarenakan letak monumen yang berada di atas bukit sehingga wisatawan yang berkunjung ke monumen ini  bisa menikmati suasana pemandangan disekitar monumen yang begitu indah, lembah-lembah yang kelihatan pohonnya yang hijau juga sawah-sawah dan sebagian kota pacitan yang dapat dilihat dari kawasan monumen ini. Dan jika tidak tertutup kabut atau awan pada siang dan sore hari wisatawan bisa melihat indahnya gunung lawu.

Setiap tanggal 17 di kawasan monumen Jendral Sudirman ini sering dilaksanakan upacara untuk memperingati HUT kemerdekaan RI juga sering di jadikan tempat untuk menelusuri jejak gerilya Jendral Sudirman.

D.  Waktu Buka dan Tiket Masuk

Bagi wisatawan yang tertarik untuk berkunjung ke monumen Jendral Sudirman, wisatawan bisa berkunjung kapan saja karena monumen ini di buka setiap hari 24 jam. Sedangkan untuk biaya masuk 2.000,- untuk pengunjung bersepeda motor, 3.000,- untuk pengunjung dengan mobil pribadi, dan 5.000,- untuk rombongan bus pariwisata.

PEMANDIAN AIR HANGAT

TIRTO HUSODO

By: Endang Disis Weni, Ika Ihfana

Kota Pacitan yang berjulukan sebagai kota 1001 Goa mempunyai bermacam-macam objek wisata baik wisata pantai, goa, desa, pegunungan, dan masih banyak yang lainnya yang sangat menarik untuk dikunjung. Selain itu, terdapat juga sebuah ojek wisata yang tidak kalah bagusnya yaitu objek wisata pemandian air hangat Tirto Husodo, konon katanya Tirto artinya ‘air’ dan Husodo artinya ‘hangat’.

Pemandian Tirto Husodo terletak di desa Karang Rejo kecamatan Arjosari Pacitan, 16 km sebelah timur kota pacitan. Akses jalan menuju kesana sudah baik, artinya sudah di aspal dan juga dilewati olah kendaraan umum seperti bus, mini bus, angkot, dokar, becak bahkan ojeg. Jarak tempuh untuk sampai ke sana sekitar 30 menit dengan bus umum.

Harga tiket masuk 3000,00 untuk orang dewasa dan 2.500,00 untuk anak-anak. Fasilitas yang ditawarkan di pemandian Tirto Husodo misalnya tempat parker yang luas, kolam renang di bagi dua untuk orang dewasa dan untuk anak-anak, villa, tempat bilas, rumah makan, warung dan toko souvenir, tempat penyewaan pakaian renang, lingkungan yang bersih dan pemandangan yang indah.

Tempat pemandian Tirto Husodo di buka setiap hari, biasanya dari pukul 07.00 sampai pukul 16.00 wib. Hari yang paling ramai untuk berkunjung ke tempat pemandian Tirto Husodo biasanya di waktu liburan sekolah atau setelah hari raya. Biasanya pengunjung dari wilayah pacitan dan sekitarnya memadati tempat pemandian ini. Tak kalah ramainya para pedagang yang menawarkan barang dagangannya.

Kelebihan dari pemandian Tirto Husodo, selain airnya yang hangat dan bersih juga disediakan banyak jenis kolam pemandian dari yang air biasa, agak hangat, hangat bahkan sampai air panas. Konon katanya air pemandian Tirto Husodo ini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit, karena air pemandiannya berasal dari perut pegunungan sekitar.

PANTAI TELENG RIA

By: Melita Oky Widafrestina, Yuliarti

A. Tentang Pantai Teleng Ria

Pantai Teleng Ria merupakan satu-satunya pantai yang berada di dekat pusat kota pacitan. karena letaknya yang dekat dengan pusat kota inilah yang menjadikan Pantai Teleng Ria banyak dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara/ internasional.

Keindahan ombak dan panorama alam yang sangat memikat wisatawan menjadikan wisatawan senang berada di Pantai Teleng Ria. Ditambah dengan lalu lalang kapal-kapal dagang atau kapal-kapal ikan di pelabuhan yang berada disebelah barat kawasan Pantai Teleng Ria menjadikan suasana di sekitar Pantai Teleng Ria lebih ramai.

Fasilitas yang ditawarkan di Pantai Teleng Ria antara lain:

1. Hotel atau tempat penginapan

Terdapat beberapa hotel dan banyak tempat penginapan di sekitar Pantai Teleng Ria, sehingga bagi wisatawan yang berasal dari luar pacitan bisa menginap di hotel atau tempat penginapan di sekitar Pantai Teleng Ria. Biaya penginapan relatif  murah yaitu berkisar antara 30-75 ribu dengan fasilitas penginapan yang sangat lengkap.

2. Area Bumi Perkemahan (Pancer Door)

Pantai Teleng Ria pernah dijadikan sebagai tempat berkemah se Indonesia. Tentunya karena areanya yang sangat luas dana dapat menampung banyak orang.

3. Surfing atau berselancar

Bagi wisatawan yang senang berselancar, di Pantai Teleng Ria juga bisa digunakan untuk berselancar. Tersedia juga tempat penyewaan papan selancar dan tim keamanan yang selalu siap menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan berselancar.

4. Restaurant atau café

Restaurant atau café yang terdapat di Pantai Teleng Ria mempunyai menu masakan yang berbeda-beda dengan harga murah. Masakan khasnya berupa seafood dan makanan daerah setempat. Untuk restaurant buka kapan saja dan untuk café biasanya buka hanya pada malam hari.

5. Tempat bermain anak

Tepatnya di sebelah barat Pantai Teleng Ria terdapat arena bermain untuk anak-anak, yaitu berupa perahu dayung, mandi bola, ayunan, perosotan, dan masih banyak yang lainnya.

6. Panggung sangga budaya

Panggung ini merupakan tempat acara-acara tertentu, biasanya digunakan untuk hiburan dangdut, event kebudayaan daerah setempat.

7. Mushola,

Bagi wisatawan muslim yang ingin beribadah, di kawasan Pantai Teleng Ria juga terdapat banyak mushola sehingga wisatawan tidak harus mencari keluar kawasan.

Fasilitas pendukung lainnya seperti toilet dan kamar mandi, tempat membeli souvenir banyak terdapat di kawasan Pantai Teleng Ria.

B. Jam buka dan harga tiket masuk

Pantai Teleng Ria dibuka setiap hari 24 jam dan biaya masuk 10.000,-/orang.

C. Transportasi

Untuk menuju ke Pantai Teleng Ria wisatawan bisa menggunakan kendaraan apa saja, karena kondisi jalannya sangat layak untuk dilalui. Karena letaknya yang sangat dekat dengan pusat, maka jarak tempuhnya pun tidak lama dengan angkutan umum yaitu + 15 menit dari pusat kota. Wisatawan juga bisa menggunakan kendaraan tradisional setempat berupa delman/dokar untuk sampai ke Pantai Teleng Ria, wisatawan bisa menemukan delman di pasar Arjowinangun atau bisa juga menunggu di tempat yang dilalui delman. Ongkos untuk setiap kali jalan hanya 5.000,- sampai 10.000,- tergantung darimana wisatawan naiknya. Selain itu, wisatawan juga bisa menyewa mobil pribadi, harga sewa per harinya mulai dari 100.000,- sampai 400.000,- tergantung dari jenis mobilnya. Di Pacitan banyak sekali biro perjalanan yang menyediakan penyewaan mobil, bahkan membuka cabang di daerah lain.

D. Sisi lain Pantai Teleng Ria

Di kawasan Pantai Teleng Ria selain terdapat  keindahan alam yang benar-benar natural, terdapat juga pelabuhan untuk para nelayan memasarkan hasil tangkapannya. Biasanya para nelayan lokal dan nelayan dari luar Pacitan setelah memasarkan hasil tangkapannya mereka beristirahat di mess yang lokasinya tidak jauh dari SPBU untuk kapal nelayan.

Pantai Watukarung

By: Sinta Septia Ningsih, Nike Cahyanti

A. Tentang Pantai Watukarung

Pantai watukarung terletak + 35 km sebelah barat kota Pacitan, tepatnya di desa Watukarung kecamatan Pringkuku. Sepanjang  jalan menuju ke Pantai Watukarung  merupakan pemandangan alam dan panorama khas pedesaan.  Keunikan yang dimiliki oleh Pantai Watukarung  ini yaitu pantainya memiliki dua jenis pasir dalam satu kawasan, pasir putih dan pasir hitam. Keunikan ini hanya satu-satunya di Pacitan.

Pantai Watukarung dulunya bernama Pantai Watutarung. Dinamakan demikian karena cerita pada jaman dahulu terdapat dua buah batu/gunung yang bertabrakan (tarung) orang daerah setempat menyebutnya watu tarung, namun kemudian kedua gunung tersebut berhasil dibelah oleh seorang yang sakti mandraguna yang bernama mbah Gambang Jiwo. Namun sekarang masyarakat sekitar menyebutnya dengan Pantai Watukarung. Batu hasil pembelahan dibuang ke dua sisi yaitu ke sisi barat dan timur dan sampai sekarang batu tersebut masih ada di kawasan Pantai Watukarung.

B. Sisi lain Pantai Watukarung

Pantai Watukarung juga sering digunakan untuk olah raga selancar khususnya di pantai yang berpasir putih, sedangkan di pantai yang berpasir hitam digunakan oleh para nelayan untuk menyandarkan perahunya, mayoritas warga setempat bekerjai sebagai nelayan. Hasil tangkapan nelayan berupa ikan tongkol, tonjo, layur, dan lainnya. Wisatawan juga bisa membeli langsung ke para nelayan. Selain mendapatkan harga yang murah juga mendapatkan ikan yang segar.

C. Fasilitas

Setelah dijadikan sebagai tempat wisata, di kawasan Pantai Watukarung telah dibangun beberapa fasilitas yang mendukung untuk kegiatan wiasta, seperti: mushola, toilet dan kamar mandi, warung makan, tempat penginapan (hotel, homestay) tempat parkir dan masih banyak yang lainnya.

NB: untuk sampai ke Pantai Watukarung + 1 jam perjalanan dengan bus. Selain itu bisa juga menggunakan berbagai kendaraan, karena akses jalan menuju kesana sudah baik dan layak untuk dilewati.

Pantai Srau

By: Anggun Sekar Putri Antika, Windy Ardianti

A.  Tentang Pantai Srau

Pantai Srau terletak di desa Candi kecamatan Pringkuku kabupaten Pacitan + 25 km sebelah barat dari pusat kota pacitan. Waktu tempuh untuk sampai ke Pantai Srau sekitar 2 jam perjalanan dengan bus.

Pantai yang berpasir putih ini mempunyai area yang sangt luas dan dapat memanjakan wisatawan yang berkunjung ke sana.

B. Transportasi

Selain bisa ditempuh dengan bus, transportasi untuk sampai ke Pantai Srau juga bisa dengan kendaraan pribadi atau pun kendaraan umum tradisional, seperti delman atau dokar. Wisatawan cukup mengeluarkan uang 10.000,- untuk naik delman atau dokar. Bagi wisatawan yang menggunakan mobil pribadi, di kawasan Pantai Srau juga terdapat tempat parkir yang luas dan dijamin keamanannya.

C.  Fasilitas

Fasilitas yang mendukung di kawasan Pantai Srau antara lain bumi perkemahan, kios cendramata, toilet, mushola, dan tempat parkir. Di kawasan Pantai Srau ini wisatawan bisa melakukan aktivitaf seperti berkemah, berselancar, berjemur, mancing, renang di pinggiran pantai dan lainya.

D.  Waktu Buka dan Harga Tiket

Harga tiket masuk ke Pantai Srau sangat terjangkau yaitu 2.000,- untuk orang dewasa dan 1.500,- untuk anak-anak. Sedangkan waktu buka dimulai pukul 06.00 wi sampai dengan 18.00 wib. Tetapi bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pantai Srau pada malam hari, wisatawan perlu hati-hati karena tidak ada petugas atau penjaga pantai yang bertugas malam hari sehingga perlu waspada akan keamanan dan keselamatan masing-masing pengunjung.

E. Sisi lain Pantai Srau

Biasanya ketika senja datang wisatawan yang berada di sekitar pantai Srau bisa melihat indahnya sunset atau matahari tenggelam, selain itu para nelayan pulang dengan hasil tangkapan yang segar. Wisatawan bisa langsung membeli ikan-ikan hasil tangkapan nelayan, seperti  ikan tongkol, panjo, layur dan masih banyak yang lainnya.

Di kawasan Pantai Srau belum terdapat akomodasi yang mendukung seperti hotel atau tempat penginapan umum, tetapi bagi wisatawan yang membutuhkan tempat untuk menginap, wisatawan bisa menginap di rumah warga setempat. Tiap rumah biasanya mampu menampung 5 orang.

EVENTS DI PACITAN

KETHEK OGLENG

By: Endang Disis Weni, Nike Cahyanti, Evi Rusdiana

Kethek ogleng merupakan salah satu kesenian yang ada di pacitan. Kesenian ini berawal dari sebuah cerita kerajaan jawa, yaitu kerajaan Jenggala dan kerajaan Kediri yang kemudian dituangkan ke dalam seni gerak tari. Secara turun temurun kesenian ini tetap eksis di kalangan masyarakat desa Tokawi kecamatan Nawangan kabupaten Pacitan, terutama ketika sedang diadakan kegiatan syukuran atau pun pada saat hajatan.

Dalam tarian kethek ogleng, diceritakan bahwa puteri Dewi Sekartaji atau putri dari kerajaan Jenggala menjalin hubungan asmara dengan Panji Asmara Bangun pangeran dari kerajaan Kediri. Hubungan mereka sangat harmonis, karena keduanya saling mencinta dan seolah tidak bisa  dipisahkan. Akan tetapi, orang tua mereka tidak sejalan dengan cinta anak-anaknya, ayahanda sang puteri mempunyai kehendak lain, beliau menginginkan puterinya untuk menikah dengan pria pilihannya. Sang puteri menolak, tetapi ayahnya yang seorang raja bersikeras menginginkan agar anaknya menikah denga pria pilihannya, sampai akhirnya sang puteri dipaksa untuk menikah dengan pria tersebut. Karena cintanya pada Panji Asmara Bangun dan untuk menghidar dari paksaan ayahnya, sang puteri pun secara diam-diam meniggalkan kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Malam hari sang puteri berangkat dengan diiringi dayang istana menuju kearah barat. Mengetahui sang kekasih pergi meninggalkan kerajaan, kemudian Panji Asmara Bangun pergi untuk mencari sang puteri. Panji Asmara Bangun singgah dirumah seorang sang pendeta dan diberi wejangan. Pergi kearah barat dan menyamar menjadi Kethek (kera). Begitu pula sang puteri yang menyamar sebagai Endang Roro Tompe (seorang gadis dengan tompel di wajahnya).

Sang Tompe hidup menyendiri di sebuah pondok di hutan. Ia hanya berteman kan binatang liar yang hidup di sekitar hutan. Begitu juga dengan sang Kethek, ia hidup menggelantung dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya di sebuah hutan belantara. Setelah sekian lama, sang Kethek pun bertemu dengan sang Tompe. Awalnya keduanya tidak saling mengenal, akan tetapi lama kelamaan keduanya pun saling mengenal dan menjadi akrab. Karena mereka sudah merasa akrab, akhirnya mereka pun merubah wujudnya seperti semula. Sang Kethek kembali menjadi Panji Asmara Bangun dan sang Tompe pun kembali menjadi Dewi Sekartaji. Ketika mereka sudah kembali ke wujud aslinya, mereka pun kaget ternyata mereka adalah orang yang saling mengenal dan saling mencari bahkan saling mencintai.

Perjumpaan sepasang kekasih tersebut sangat mengharukan. Mereka pun saling melepas rindu, layaknya sepasang kekasih yang lama tidak bertemu. setelah itu mereka kembali ke kerajaan Jenggala untuk meminta restu dan segera menikah.

Yang menarik dari kesenian Kethek ogleng ini, selain penarinya yang cantik juga tariannya yang menggambarkan kehidupan masa silam dan merupakan kisah nyata, sehingga kesenian ini sangat menghibur bagi wisatawan yang berkunjung ke Pacitan, khususnya bagi wisatawan yang senang dengan wisata kebudayaan berupa tari-tarian.

Tari Kethek ogleng biasanya diadakan pada saamasyarakat mengadakan hajatan khususnya masyarakat desa Tokawi kecamatan Nawangan pacitan, tetapi kadang-kadang tarian ini juga dimainkan pada saat diadakannya acara-acara tertentu misalnya untuk mengiringi grup drum band ketika diadakannya karnaval hari jadi kota Pacitan.

NGITER ROJO WONO DAN SENTHE REWE

By: Ferdinan Morin Hermawan, Melita Oky Widafrestina, Yuli Andriani

Seperti yang sudah wisatawan ketahui bahwa di kabupaten Pacitan banyak sekali upacara-upacara adat dan kesenian tradisionalnya yang mungkin tidak ada di daerah lain. Ngiter Rojo Wono dan Senthe Rewe merupakan upacara adat yang sudah lama dan sering dilakukan oleh warga di desa Sukorejo kecamatan Sudimoro kabupaten Pacitan.

Ngiter berarti mengepung, Rojo Wono berarti raja hutan. Jaman dahulu di desa Sukorejo banyak hewan-hewan buas seperti harimau, ular dan celeng/babi hutan yang memangsa hewan ternak dan merusak tanaman warga bahkan mengganggu ketentraman warga desa Sukorejo. Kemudian ketua adat setempat mengundang orang-orang yang perkasa yang mempunyai kesaktian untuk dijadikan prajurit ketalang pati (prajurit berkuda) untuk melawan hewan buas tersebut. Singkat cerita hewan buas kalah dan bisa dijinakan dan upacara ngiter rojo wono merupakan upacara yang dilakukan warga untuk mengungkapkan rasa syukur kepada tuhan karena warga telah berhasil menaklukan hewan buas yang mengganggu ketentraman warga.

Pada perayaan upacara ini banyak warga yang berjoged ala kuda, harimau ataupun babi hutan sampai mereka tidak sadarkan diri/kesurupan. Selain itu, perayaan ngiter rojo wono diiringi oleh tarian senthe rewe. Tarian senthe rewe hampir sama dengan tarian kuda lumping/jatilan/jaranan pada umumnya. Tarian ini mempertunjukan atau menceritakan prajurit ketalang pati ketika sedang menaklukan hewan buas. Tarian ini biasanya berlangsung selama 6 sampai 8 jam dengan diiringi musik gamelan sederhana dan lagu.

UPACARA ADAT HORE

By: Yuliarti, Yoga Budi Santoso, Winarti

A.  Tentang Upacara Adat Hore

Upacara adat hore berasal dari dusun Gedangan desa Sukoharjo kecamatan Donorojo kabupaten Pacitan. Upacara adat ini diprakarsai oleh Kyai  Gledang Gedangan.  Pada awalnya masyarakat desa Sukoharjo melaksanakan upacara adat ini untuk memohon kepada Tuhan yang maha esa agar diberikan keselamatan lahir dan batin dan dijauhkan dari marabahaya, penyakit serta cobaan yang kelak melanda masyarakat desa Sukoharjo.  Sekarang upacara ini dilaksanakan setiap tahun atau tepatnya setelah masyarakat desa Sukoharjo panen padi. Mesyarakat meluapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang didapatnya dengan cara mengadakan upacara adat hore.

Pada pelaksanaan upacara ini masyarakat biasanya membuat beraneka macam makanan atau sesaji yang antara lain berupa nasi, panggang, cupu lengo klentik (tutup botol yang diberi minyak goreng), kendi cucup, panggang ilang, tumpeng, uler-uler, jadah, ingkung,  jangan menir, dll. Kemudian salah seorang yang dipercaya atau sesepuh desa Sukoharjo mengadakan ritual untuk mengutarakan apa yang akan menjadi maksud dan tujuan dari mengadakan sesaji tersebut. Setelah ritual itu selesai seluruh warga yang mengikuti upacara tersebut bersorak dengan menyerukan kata hore….hore… diikuti dengan saling melempar sesaji sampai sesaji tersebut habis. Dengan melaksanakan upacara tersebut, masyarakat desa Sukoharjo meyakini bahwa kelak Tuhan akan memberikan rizki yang lebih atau hasil panen yang melimpah sehingga masyarakat pun lebih semangat lagi dalam mengelola sawahnya.

Pakaian yang dikenakan oleh masyarakat ketika melaksanakan upacara adat hore ini adalah pakaian sehari-hari atau ketika mereka pergi ke sawah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: